Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Thursday, July 30, 2020

Belajar Hidup Bermasyarakat Melalui Live In

Semakin hari, perubahan zaman berlangsung semakin cepat dan dinamis. Situasi pada zaman ini semakin berkembang ke arah yang lebih kompleks dan sulit, baik dari segi ekonomi, politik, maupun sosial. Situasi ini membuat banyak orang hanyut ke dalam ketidaksadaran akan potensi diri, bertindak emosional, individualistis, dan cenderung egois. Remaja pun menjadi salah satu korban dari perubahan zaman ini yang menyebabkan mereka cenderung melupakan perannya di masyarakat. Hal ini membuat remaja perlu untuk kembali belajar hidup bermasyarakat. 

Sebagai sekolah yang menyadari pentingnya para remaja untuk hidup bermasyarakat, SMA Stella Maris BSD melaksanakan kegiatan live in adalah setiap tahunnya. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas X dan diadakan dengan tujuan untuk menginterpretasikan, mengaitkan, dan menerapkan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang telah diperoleh di sekolah, serta belajar hidup secara nyata bersama-sama dengan masyarakat dari latar belakang sosial budaya yang sungguh berbeda keadaannya dengan lingkungan hidup siswa. Merefleksikan keadaan juga menjadi bagian kegiatan ini agar siswa lebih mendalami dan memperoleh inspirasi hidup untuk menjadi pribadi yang cerdas, unggul, dan bersaudara, bukan menjadi manusia yang angkuh, egois, dan individualis.

Lokasi yang dipilih untuk kegiatan ini pun tidak sembarangan. Lokasi yang dipilih biasanya adalah desa-desa yang masih memiliki nilai budaya yang kental dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Selain itu, satu rumah hanya ditempati oleh dua siswa agar siswa benar-benar menyatu dalam irama kehidupan keluarga tersebut.

Mungkin banyak siswa beranggapan bahwa kegiatan live in adalah kegiatan yang menyusahkan. Padahal, kegiatan ini sangat menyenangkan. Berkenalan dengan orang-orang baru yang cukup berbeda dari segi latar belakang, keadaan sosial, suku, dan agama, merasakan nilai-nilai budaya yang masih terasa sangat kental, serta mendapatkan pengalaman baru, yaitu tinggal di pedesaan yang jauh dari keramaian seperti di perkotaan. Sungguh menyenangkan bukan?

Ada banyak sekali hal-hal yang dapat dipelajari melalui kegiatan ini, seperti belajar untuk hidup dalam kesederhanaan, berlaku ramah, bertutur kata sopan, bekerja keras, berbagi dengan sesama, menghargai orang lain, dan sebagainya. Nilai-nilai ini tentu sangat diperlukan dalam hidup bermasyarakat. Salah satu nilai yang sangat penting adalah menghargai orang lain. Sering kali, kebiasaan penting ini terlupakan oleh kita. Tidak peduli, cuek, dan meremehkan orang lain adalah tiga hal yang sering kali kita lakukan di kehidupan sehari-hari. Di dunia ini, kita hidup bersama-sama dengan miliaran orang lain, bukan seorang diri. Sudah sepatutnya kita saling menghargai dan menghormati dalam berbagai situasi dan kondisi.

Nilai menghargai orang lain sangatlah terasa selama kegiatan live in. Walaupun belum mengenal kami, warga-warga di desa sangatlah menghargai keberadaan siswa-siswi. Mereka sangat peduli dan memberikan perhatian yang besar kepada siswa-siswi tanpa memandang usia, agama, jenis kelamin, suku, dan sebagainya.

Banyak peristiwa mengharukan yang dialami oleh siswa, terutama ketika siswa harus berpisah dari orangtua asuhnya. Banyak orangtua asuh yang masih ingin bersama dengan siswa maupun sebaliknya. Walaupun kegiatan tersebut hanya berlangsung selama lima hari, tetapi kebersamaan benar-benar tumbuh di antara siswa dan orangtua asuhnya.


Monday, June 3, 2019

Keberagaman Masyarakat Indonesia: Penghalang atau Pendorong Persatuan Bangsa?


Terbentang dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Pulau Rote, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Tepatnya, Indonesia memiliki 17.504 pulau. Dengan luas lebih dari 7,81 juta km2, tak heran setiap wilayah di Indonesia memiliki ciri khasnya masing-masing. Hal ini membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, dan bahasa. Keberagaman ini membuat Indonesia menjadi unik di mata negara lain.
            Namun, di balik itu, keberagaman masyarakat Indonesia memberikan tantangan tersendiri bagi persatuan dan kesatuan bangsa apabila tidak disertai dengan sikap saling menghormati, menghargai, dan toleransi. Keberagaman suku, agama, dan bahasa dapat memicu terjadinya berbagai konflik yang terkait dengan isu SARA.
            Salah satu konflik berbau SARA terbesar yang pernah terjadi di Indonesia adalah Kerusuhan Mei 1998. Peristiwa penembakan yang menewaskan empat mahasiswa Trisakti ini ternyata berbuntut panjang. Kerusuhan yang terjadi menular pada konflik antara etnis pribumi dan etnis Tionghoa. Banyak aset milik etnis Tionghoa dijarah dan dibakar oleh massa yang kalap. Tindakan kekerasan dan pelecahan seksual dari massa pribumi pun dialami oleh para wanita dari etnis Tionghoa kala itu. Peristiwa ini tentu membuat hubungan antara orang beretnis Tionghoa dan Pribumi menjadi kurang baik. Tidak dapat dipungkiri bahwa sampai saat ini, masih ada sentimen antara etnis pribumi dan Tionghoa.
            Selain itu, konflik antar agama juga marak terjadi di Indonesia. Salah satu contohnya adalah konflik antar agama yang terjadi di Ambon pada tahun 1999. Konflik ini meluas dan menjadi kerusuhan buruk antara agama Islam dan Kristen yang berakhir dengan banyaknya korban jiwa yang meninggal dunia. Orang-orang dari agama Islam maupun Kristen saling serang dan berusaha untuk menunjukkan kekuatannya. Kerusuhan ini membuat kerukunan antar umat beragama di Indonesia menjadi memanas hingga waktu yang cukup lama.
            Masih banyak sekali konflik-konflik akibat keberagaman suku, agama, dan bahasa yang pernah terjadi di Indonesia. Bahkan, sampai saat ini, konflik-konflik tersebut masih banyak terjadi. Tentunya, hal ini sangat disayangkan karena keberagaman masyarakat Indonesia merupakan sebuah kekayaan yang tiada tara nilainya.
Jika kita lihat satu per satu, keberagaman yang ada di masyarakat Indonesia sebenarnya sangatlah indah dan memperkaya Indonesia sebagai suatu negara. Misalnya, keberagaman bahasa daerah. Keberagaman bahasa daerah dipersatukan oleh satu bahasa pemersatu, yaitu bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa pemersatu yang pemberlakuannya sama sekali tidak mendapat pertentangan. Bahasa Indonesia disepakati secara sadar sebagai bahasa yang menyatukan seluruh masyarakat Indonesia. Meskipun begitu, masih ada celah bagi bahasa-bahasa daerah untuk tetap eksis.
Selain bahasa, kebudayaan Indonesia yang beragam juga saling memperkaya satu sama lain. Berbeda dengan keberagaman bahasa yang dapat disatukan oleh suatu bahasa, yaitu bahasa Indonesia, masing-masing budaya memiliki ruang gerak yang luas untuk eksis dan semuanya hadir memperkaya satu sama lain tanpa adanya pertentangan.
Selain itu, keberagaman Indonesia juga tampak dalam keyakinan beragama. Negera ini mengakui enam agama, yakni Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Keenam agama ini hidup berdampingan secara damai dalam bingkai Pancasila, khususnya sila pertama, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Bahkan tak jarang masyarakat lintas agama secara bersama-sama berdialog damai mengenai pemecahan solusi terhadap berbagai isu yang ada di masyarakat.
Oleh karena itu, sayang sekali rasanya jika keberagaman ini malah menghambat persatuan dan kesatuan di Indonesia. Meskipun sampai saat ini masih ditemui konflik-konflik pemecah persatuan dan kesatuan yang disebabkan oleh keberagaman, jumlah konflik-konflik ini sudah jauh berkurang jika dibandingkan dengan zaman dahulu. Artinya, semakin ke sini, semakin banyak masyarakat Indonesia yang menyadari bahwa keberagaman bukanlah sesuatu yang seharusnya memecah belah bangsa Indonesia.
Beruntungnya, kita punya Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang mampu menyatukan keberagaman dalam satu payung Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila sebagai filosofi dasar berbangsa dan bernegara memuat nilai-nilai yang berakar pada semangat kebersamaan sebagai sebuah bangsa yang sangat beragam. Sila-sila Pancasila merupakan simpul kebersamaan yang mengikat keberagaman Indonesia. Sudah seharusnya kita menerapkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, seperti rukun antar umat beragama, saling toleransi, menghargai semua budaya dalam masyarakat, dan sebagainya. Begitu juga dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang artinya walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan, melainkan sesuatu yang harus dihayati dan disimpan dalam hati setiap warga negara Indonesia untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Semangat kebersamaan yang tinggi juga mampu mendorong terjadinya persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan semangat kebersamaan yang tinggi, konflik-konflik yang ada di masyarakat dapat diselesaikan dengan yang akomodatif, melalui mediasi, kompromi, dan ajudikasi. Bukan melalui kekerasan.
Indonesia adalah bangsa yang kaya, bangsa yang terdiri dari masyarakat yang beragam, di mana hal ini merupakan ciri khas yang patut dijaga dan dilestarikan. Keberagaman bukanlah penghalang, melainkan pendorong agar kita menjadi satu padu. Penerapan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, semboyan Bhinneka Tunggal Ika, dan semangat untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan yang tinggi harus terus digalakkan untuk memerangi konflik-konflik yang disebabkan oleh pihak-pihak yang tidak mampu menerima keberagaman suku, agama, dan bahasa yang ada di Indonesia sebagai sesuatu yang memperkaya.